BAB I
PEMBAHASAN
1. Tolak Peluru
a. Hukum Newton I ( kekekalan )
Bola
Tolak peluru : akan diam jika tidak diberikan gaya dari luar
Keterangan :
Dalam tolak peluru, sifat kekekalan sebuah benda terdapat
pada peluru itu sendiri. Pada saat peluru dilempar, peluru akan terus bergerak
secara beraturan setelah itu akan jatuh dan berhenti pada tanda panah dalam
gambar, titik dimana peluru itu akan berhenti, dan akan terus diam jika tidak
digerakkan.
Disini
dibuktikan, bahwa setiap benda yang tidak bergerak, akan tetap diam, terkecuali
ada gaya dari luar yang menggerakkan,
b. Hukum Newton II ( percepatan )
Saat melakukan lemparan tolak peluru : bola akan lebih jauh
dan cepat jika diberikan lemparan yang kuat begitu sebaliknya.
Keterangan
:
Seberapa besar gaya yang dibutuhkan tangan dalam melempar,
untuk mendapatkan jarak yang jauh.yang jelas, semakin cepat dan kuat tangan
melempar, maka sifat inersia / kekekalan dari bola akan dapat dipertahankan
sejauh mungkin.
c. Hukum Newton III ( Reaksi )
Saat
tungkai ditekuk : tanah akan memberikan reaksi sebaliknya terhadap tungkai.
Keterangan
:
Sebagaiman diketahui, sebuah reaksi akan timbul jika ada
sebuah reaksi.
Dalam
lempar cakram, reaksi yang ada yaitu pada saat tungkai belakang yang ditekuk,
diluruskan sehingga terjadi gaya dorong yang menyababkan tubuh bergeser (shift)
ke depan.
Disini
ketika tungkai ditekuk, tanah memberikan reaksi kepada tungkai untuk dapat
melakukan tolakan, dari di tekuk menjadi lurus, yang dapat kita lihat pada
gambar.
2. Bola Basket
a. Hukum Newton I ( kekekalan )
Pada
saat Dribbling : bola akan terus bergerak beraturan, dan berhenti jika bola di
pegang kedua tangan.
Keterangan
:
Bola basket akan terus bergerak/berputar jika di giring, dan
pada saat bola itu di tangkap, maka otomatis bola akan berhenti
bergerak/berputar. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kekekalan sebuah bola
basket, maka seorang atlet harus mampu menguasai bola.
b. Hukum Newton II ( Percepatan )
Pada
saat shooting : cepat dan lambat pergerakan bola basket mempengaruhi jarak
bola.
Keterangan
:
Saat melakukan shooting, seorang atlet harus menentukan
kekuatan gaya yang dibutuhkan untuk memasukkan sebuah bola ke dalam ring,
tergantung jarak antara atlet dan ring.
Apabila
ring jaraknya dekat dengan atlet, maka gaya harus kecil hingga percepatan bola
juga lamban,dan bentuk sudut siku. Sebaliknya, jika ringnya jauh, maka gaya
yang dibutuhkan juga besar agar jarak yang didapatkan maksimal, dan sudut pada
tangan mengecil.
c. Hukum Newton III ( reaksi )
Pantulan
bola basket saat dribbling : Saat bola didribbling, pasti memanfaatkan lantai
sebagai tempat untuk memantulkan bola tersebut keatas.
Keterangan
:
Lantai akan memberikan reaksi pada saat bola tersebut jatuh
kebawah, dan memantulkannya kembali keatas.
3. Lari
Sprint
a. Hukum Newton I ( kekekalan )
Pada
saat start jongkok : atlet akan diam, sampai mendengar aba-aba dari wasit.
Keterangan
:
Keadaan diam disini akan bergerak ketika mendapatkan gaya
dari luar, yaitu pada saat wasit memberikan aba-aba kepada atlet. Atlet akan
cendrung tidak akan melakukan gerakan apabila belum mendapatkan aba-aba.
b. Hukum Newton II ( percepatan )
Pada
saat berlari : Menambah gaya kecepatan agar menghasilkan percepatan yang maksimal.
Keterangan
:
semakin besar gaya yang dikeluarkan oleh seorang atlit, maka
akan semakin besar percepatannya.
Hal
ini tergantung dari bagaimana cara atlit berlari, baik itu posisi badan, posisi
kaki, dan juga tolakan.
Sebagai
contoh :
Badan
yang cenderung condong kedepan akan mudah untuk mengimbangi berat badan dan
melawan arah angin.
c. Hukum Newton III ( reaksi )
Pada saat melakukan tolakan pada balok start : gaya yang
dilakukan akan menghasilkan gaya terbalik pada balok start.
Keterangan
:
pada saat kaki melakukan tolakan di balok start, maka balok
start akan memberikan reaksi sebaliknya dengan menahan agar atlit dapat
bertolak dengan baik. Reaksi akan semakin besar jika kaki memberikan tolakan
yang kuat pula.
A. Renang
Olah raga renang tidak dapat lepas dari prinsip-prinsip
newton. Jika seorang perenang ingin memiliki performa renang yang optimal atau
bahkan memecahkan rekor, ia harus dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam
teknik renangnya. Banyak prinsip newton yang mempengaruhi laju renang seorang
perenang.
Hukum Newton III
Berdasarkan hukum gerak Newton ketiga (ketika suatu benda
memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut memberikan gaya yang
sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda pertama), gaya gesek inilah
yang juga mendorong perenang untuk terus bergerak maju. Jika tidak ada gaya
gesek sama sekali, maka tidak akan ada gaya dorong yang menyebabkan perenang
terus bergerak.
Mark Spitz perenang legendaris dari Amerika tahu
menggunakan hukum Newton.
Ketika Mark menggerakan tangan mendorong air ke belakang, menurut hukum Newton
III air akan bereaksi mendorong Mark ke depan. Hal yang sama terjadi ketika
Mark menendang air, air akan mendorong Mark melaju ke depan. Kombinasi yang
baik antara gerakan tangan dan kaki (seperti lumba-lumba menggerakan ekor dan
tubuhnya) dapat memberikan gaya dorong yang besar sehingga Mark Spitz dapat
melaju merebut 7 medali emas olimpiade di Munich tahun 1972.
Hal
lain yang berkenaan dengan Hukum Newton dilakukan oleh perenang hebat Australia Ian Thorpe yang dijuluki “the
Australian superfish”. Saat hendak berbalik
arah, perenang muda yang masih berumur 20 tahun ini, akan menendang dinding kolam sekeras mungkin. Ian yang
meraih 6 medali emas dalam kejuaraan
negara persemakmuran di Manchester 2002, tahu bahwa kalau ia menendang keras maka menurut hukum Newton III,
dinding akan memberikan reaksi dan mendorong ia keras ke depan. Semakin
keras ia menendang, semakin keras pula
dorongan dari dinding itu. Ian diharapkan mampu memecahkan berbagai
rekor renang dalam olimpiade 2004 nanti di Athena. Kenapa dinding tidak ikut
bergerak ketika Ian menendang? Karena massa (berat) dinding kolam jauh lebih
besar dari massa Ian.
Selain
dari prinsip-prinsip fisika di atas masih ada beberapa hal yang dapat membantu
para atlet renang memecahkan rekor, misalnya :
a. Konstruksi pakaian renang
Seperti para perenang dan peneliti sains dalam olah raga
renang berusaha keras meminimalkan wave drag, demikian juga orang-orang yang
terlibat langsung dalam dunia olah raga renang ini berusaha untuk mengurangi
efek gaya gesek fluida (frictional drag). Tidak jarang kita lihat para atlet
renang profesional pria memotong habis rambutnya dengan harapan bisa mengurangi
efek frictional drag ini.
Pihak
produsen pakaian renang juga berusaha membuat pakaian renang yang tipis dan
licin untuk mengurangi gesekan. Speedo sebagai produsen pakaian renang
terkemuka mengklaim kalau pihaknya sudah memroduksi pakaian renang
fastskin(R) yang dirancang khusus sehingga dapat mengurangi efek gesekan
sebesar 5-10% dan menambah kecepatan renang sebesar 4% . Produk pakaian renang
yang menutupi sebagian besar tubuh perenang (bodysuit) fastskin(R) ini
diproduksi untuk perenang wanita maupun pria.
Bodysuit
yang menjadi tren baru di kalangan para perenang profesional ini dibuat dengan
meniru konstruksi kulit dari ikan hiu. Ikan hiu yang terkenal dengan
kecepatannya di laut memiliki struktur kulit yang unik. Kulit hiu terdiri dari
kumpulan sirip mungil yang berfungsi seperti ”baling-baling mini” yang dapat
menahan air tetap dekat dengan kulit, sehingga gelombang-gelombang yang
diproduksi tidak menyebar ke arah luar badan hiu. Berkurangnya
gelombang-gelombang di sekitar hiu dapat mengurangi wave drag yang dialami hiu,
dan hasilnya hiu dapat berenang cepat.
Untuk
mengurangi efek frictional drag, bodysuit dibuat dari bahan elastis yang
tipis. Risleting yang diperlukan dalam proses pemakaian bodysuit juga
diletakkan tersembunyi di dalam bodysuit tersebut, sehingga tidak menambah efek
frictional drag yang bisa muncul jika penampang tubuh perenang bertambah besar
karena kehadiran risleting.
Dengan
menggunakan fastskin(R) bodysuit, kecepatan perenang juga meningkat. Ada
banyak kontroversi dalam penggunaan bodysuit. Sebuah penelitian menyatakan
penggunaan bodysuit tidak memberi efek yang signifikan terhadap penambahan laju
renang, dengan kata lain kenyataan yang dialami para perenang tersebut tidak
sesuai dengan kualifikasi produk yang disebutkan oleh pihak produsen bodysuit.
Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa penggunaan bodysuit menyalahi aturan
FINA (Fédération Internationale de Natation, organisasi olah raga air
internasional), karena mengurangi kealamian performa para perenang.
Terlepas
dari kontroversi-kontroversi di atas, bodysuit sudah dirancang dengan
menggunakan gabungan prinsip model dari alam (kulit ikan hiu) dan
prinsip-prinsip fisika dalam usaha menghindari gaya gesek yang akan dialami
perenang. Pihak produsen bodysuit juga tidak menghentikan produksinya
dan terus berusaha melakukan inovasi-inovasi baru dalam konstruksi pakaian
renang untuk meningkatkan performa perenang.
b. Teknik Terjun atau Start
Seorang Alexander Popov (pemegang rekor 50 m gaya bebas
dengan 2 1,64 detik) memilih untuk terjun
ke kolam dengan sudut sebesar mungkin, pike dive. Gaya ini menyebabkan ombak yang dihasilkan tidak seheboh gaya terjun
yang lama. Dengan pike dive ini
tidak banyak turbulensi yang terjadi sehingga memperkecil hambatan. Selain itu, jarak yang bisa dicapai lebih
jauh karena lompatan yang lebih tinggi dari flat dive (lompatan
datar).
Di
masa mendatang, diharapkan prinsip-prinsip fisika dapat digunakan lebih luas
dalam mengembangkan teknik renang yang lebih baik, agar para perenang dapat
berenang dengan kelajuan maksimal yang dapat dilakukannya.
B. Bersepeda
Dalam olahraga bersepeda, kita akan
mengalami 4 gaya utama : gaya angin, gaya hambat udara, gaya gesekan,
dan gaya gravitasi. Fred Rompelberg dari Belanda berhasil mengefisienkan
usaha dari gaya-gaya ini sehingga ia berhasil memecahkan rekor dunia untuk
kecepatan tertinggi dengan 268,83 km/jam pada tanggal 3 Oktober 1995.
a. Gaya
Angin
Dalam bersepeda, angin yang berhembus
berlawanan arah dengan arah gerak si pengendara sepeda merupakan penghambat
yang sangat menjengkelkan. Energi si pengendara akan terkuras banyak untuk
melawan hambatan angin ini. Bayangkan untuk mempertahankan kecepatan 15
km/jam ditengah angin yang bertiup dengan kecepatan 10 km/jam saja kita akan
kehilangan sekitar 800 kalori setiap menitnya. Tetapi angin juga bisa menjadi
faktor yang mempercepat gerakan sepeda jika arah tiupan angin searah dengan arah maju
sepeda.
b. Gaya hambat udara (drag force)
Di samping angin yang bertiup kencang, udara sendiri dapat
menjadi penghambat bagi si pengendara sepeda. Tubuh manusia yang duduk tegak di
atas sepeda merupakan bentuk yang sangat
tidak aerodinamik karena mengacaukan aliran udara sehingga memaksakan
terbentuknya dua daerah dengan tekanan yang berbeda. Daerah di belakang tubuh
pengendara sepeda bertekanan rendah, sementara daerah di depan tubuh bertekanan
tinggi. Perbedaan tekanan ini mengakibatkan tubuh pengendara terdorong ke arah
belakang. Semakin cepat sepeda bergerak,
semakin besar gaya dorong ini. Ini mencegah si pengendara untuk mengayuh sepeda secepat-cepatnya. Besarnya drag
force ini sebenarnya dapat
diminimalisasi dengan mengaplikasikan bentuk yang paling aerodinamik, yaitu bentuk yang streamline (ramping) yang
dapat menembus udara dengan lebih mulus. Ini dilakukan dengan
membungkukkan badan. Dalam suatu lomba bersepeda, para atlit bukan saja beradu
kekuatan untuk menjadi yang tercepat, tetapi
justru beradu teknik untuk memaksimalkan efisiensi aerodinamik yang dapat
dicapai. Selain penempatan posisi tubuh
yang baik, desain roda dan kerangka sepeda yang tepat juga dapat mengurangi tahanan udara. Kerangka sepeda yang berbentuk
bulat digantikan oleh rancangan bentuk yang oval, sementara bentuk roda
yang bergerigi digantikan oleh bentuk cakram
(disc) yang dapat memperkecil turbulensi (gejolak udara) dan drag
force saat berputar. Cara lain untuk
memperkecil drag force adalah dengan melakukan teknik
drafting, yaitu bersepeda beriringan sambil memanfaatkan pusaran-pusaran udara (arus eddy) yang tercipta tepat di belakang pengendara terdepan untuk menarik pengendara berikutnya sehingga energi yang dibutuhkan menjadi lebih kecil. Semakin kecil jarak antara pengendara terdepan dengan pengendara berikutnya semakin efisien penggunaan energi oleh kedua pengendara. Pengendara terdepan dibantu oleh penggunaan arus eddy oleh pengendara berikutnya walaupun total energi yang dikeluarkan tetap lebih besar dari energi yang dikeluarkan pengendara yang berada tepat di belakangnya. Formasi bersepeda yang membentuk grup semacam ini dikenal sebagai formasi peloton dan echelon (formasi menyamping ke kiri maupun kanan). Para pengendara yang membentuk formasi semacam ini dapat menghemat energi sampai 40%. Pengendara sepeda profesional bahkan melakukan drafting pada jarak beberapa cm saja untuk menghemat energi.
drafting, yaitu bersepeda beriringan sambil memanfaatkan pusaran-pusaran udara (arus eddy) yang tercipta tepat di belakang pengendara terdepan untuk menarik pengendara berikutnya sehingga energi yang dibutuhkan menjadi lebih kecil. Semakin kecil jarak antara pengendara terdepan dengan pengendara berikutnya semakin efisien penggunaan energi oleh kedua pengendara. Pengendara terdepan dibantu oleh penggunaan arus eddy oleh pengendara berikutnya walaupun total energi yang dikeluarkan tetap lebih besar dari energi yang dikeluarkan pengendara yang berada tepat di belakangnya. Formasi bersepeda yang membentuk grup semacam ini dikenal sebagai formasi peloton dan echelon (formasi menyamping ke kiri maupun kanan). Para pengendara yang membentuk formasi semacam ini dapat menghemat energi sampai 40%. Pengendara sepeda profesional bahkan melakukan drafting pada jarak beberapa cm saja untuk menghemat energi.
c. Gaya
Gesekan
Dalam bersepeda, kita akan mengalami beberapa macam gaya
gesekan: gaya gesekan antara permukaan kulit dengan udara, gaya gesekan kelahar
sepeda dan gaya gesekan antara roda dengan jalan. Gaya gesekan antara permukaan
kulit dengan udara walaupun tidak sebesar drag force kadang sangat
menjengkelkan pula. Ini dapat menjadi faktor
penting dalam menentukan kemenangan seorang atlit balap sepeda. Gesekan
ini dapat dikurangi dengan menggunakan pakaian bersepeda yang tepat (skinsuit).
Bayangkan seorang yang duduk tegak dengan pakaian
biasa dapat menaikkan kecepatannya dari 10 km/jam menjadi 20 km/jam dengan
menggunakan pakaian yang tepat dan posisi yang aerodinamik.
Gaya gesekan kelahar sepeda dapat dikurangi dengan
menggunakan oli. Sedangkan
gaya gesekan antara roda dengan jalan (rolling resistance) dapat
dikurangi dengan memompa ban cukup keras. Ban yang kempes akan sangat menguras
energi kita.
d. Gaya Gravitasi
Gaya gravitasi memegang peranan penting
saat pengendara sepeda melewati bukit. Gaya ini menarik kita ke bawah. Kita
harus memberikan ekstra energi untuk melawan gravitasi ini ketika kita hendak menanjak
bukit. Semakin tajam tanjakan bukit semakin
besar energi yang dibutuhkan untuk menaiki tanjakan ini. Namun ketika kita menuruni bukit, gravitasi menjadi
faktor yang berguna. Gravitasi mendorong sepeda turun lebih cepat.
Gaya gravitasi juga dapat membuat
sepeda tidak seimbang. Cobalah duduk diatas sepeda yang
diam, apa yang kamu-kamu alami? Kamu akan merasa tidak stabil dan hendak jatuh bukan? Mengapa?
Gravitasilah penyebabnya. Tetapi mengapa sepeda yang bergerak tidak jatuh?
Misalkan sepeda sedang bergerak lurus dan agak miring ke
kanan. Gravitasi akan membuat sepeda jatuh ke sebelah kanan. Agar sepeda tidak
jatuh, kita harus belokan sepeda ke kanan sedikit. Usaha ini menghasilkan gaya
sentrifugal yang akan mendorong sepeda ke kiri. Gaya sentrifugal inilah yang
mengkompensasi gaya gravitasi sehingga kita tidak jadi jatuh ke kanan.
Sebaliknya jika kita hendak jatuh ke kiri,
kita harus belokkan sepeda ke kiri agar gaya sentrifugalnya ke kanan.
Itu sebabnya kalau diamati, lintasan sepeda berkelok-kelok.
Gaya sentrifugal ini besarnya tergantung pada kecepatan
sepeda. Semakin cepat sepeda semakin besar
gaya sentrifugalnya. Sehingga pada waktu sepeda bergerak cepat, kita
tidak perlu membelokkan sepeda terlalu tajam. Itu sebabnya lintasan sepeda yang
bergerak cepat terlihat agak lurus (tidak terlalu berkelok-kelok).
Selain
prinsip-prinsip fisika yang telah disajikan di atas, masih ada beberapa hal
yang dapat membantu para atlet bersepeda untuh memecahkan rekor :
1. Dalam cabang
bersepeda, rancangan sepeda yang digunakan oleh para atlet dapat didesain
menggunakan prinsip-prinsip fisika yang berkaitan dengan gerak melingkar (untuk
merancang rodanya), gesekan (merancang bahan yang digunakan untuk ban sepeda),
dan dinamika fluida untuk memaksimalkan bentuk streamline yang dibutuhkan untuk
mengurangi gesekan/hambatan udara.
2. Tubuh manusia merupakan mesin penggerak dalam
proses bersepeda sehingga bahan bakar
utama untuk olahraga ini adalah makanan. Faktor genetik dan kadar latihan
juga menentukan kinerja maksimal yang dapat dicapai oleh seorang pengendara
sepeda. Makanan (sayuran dan buah-buahan) yang mengandung banyak karbohidrat sangat direkomendasikan untuk
para atlet sebelum memulai pertandingan. Konsumsi cairan yang cukup juga
merupakan hal yang harus diperhatikan selama bersepeda karena kondisi tubuh
yang sudah kehilangan 2% saja cairan tubuh
dapat memberikan pengaruh yang besar. Kondisi dehidrasi yang parah dapat
menyebabkan kelelahan, stroke, bahkan kematian. Atlet-atlet bersepeda sangat dianjurkan untuk terus
menggantikan cairan tubuh yang hilang lewat keringat melalui minuman.
Dengan demikian, konsep-konsep fisika telah sangat
membantu para pengendara sepeda untuk melakukan aktivitas bersepeda secara
lebih efisien dan aman.
C. Dayung
Berbagai perkembangan dalam teknik
mendayung ternyata didasari oleh berbagai konsep yang diaplikasikan dalam
olahraga ini. Faktor utama yang paling
mempengaruhi kecepatan perahu adalah daya dorong perahu (propulsion). Mekanisme pergerakan perahu dalam air
mengikuti Hukum III Newton tentang aksi dan reaksi. Menurut hukum ini,
setiap gaya aksi selalu mendapatkan gaya reaksi yang besarnya sama tetapi pada
arah yang berlawanan. Dalam proses
mendayung, pedayung memindahkan sejumlah massa air ke belakang (gaya aksinya) sebagai reaksinya air akan mendorong
perahu maju. Untuk menggerakan
perahu dengan massa total (termasuk massa pedayung) 100 kg, dengan
kecepatan 1 m/s, kecepatan dayung (kecepatan air yang dilontarkan) yang dibutuhkan 10 m/s jika massa air tersebut sebesar 10
kg. Atau kecepatan dayungnya 5 m/s jika massa air tersebut 20 kg. Disini
kita mempunyai kebebasan menentukan kecepatan dayung kita untuk mencapai
kecepatan optimum.
Dalam menentukan kecepatan dayung yang optimum konsep lain
yang perlu diperhatikan adalah konsep energi kinetik. Pada kasus 1, besarnya
energi yang dibutuhkan adalah 550 Joule, sedangkan energi yang dibutuhkan untuk
kasus 2 adalah 300 Joule. Besarnya energi kinetik yang terlibat pada
kasus 1 hampir
dua kali lipat energi yang terlibat di kasus 2. Hal ini menunjukkan bahwa teknik yang lebih efisien adalah dengan mendayung
perlahan tetapi jumlah massa air yang dipindahkan diperbesar. Ini
merupakan dasar yang menjadi alasan dipilihnya
ukuran ujung dayung yang lebih besar (Hatchet Blade) supaya dapat memindahkan
air dalam jumlah yang lebih banyak.
Pada suatu pertandingan dayung,
kecepatan mendayung dapat bertambah maupun berkurang (semakin cepat atau semakin lambat) selama
pertandingan berlangsung. Analisa
menggunakan konsep fisika menunjukkan bahwa perubahan kecepatan sangat tidak
efektif dalam hal penggunaan energi. Ada persepsi yang menganggap bahwa
untuk dapat memenangkan pertandingan, kecepatan mendayung harus ditingkatkan saat garis finish semakin dekat.
Misalnya pada menit pertama kecepatan mendayung adalah 4 m/s. Kecepatan
ini kemudian ditingkatkan menjadi 6 m/s pada menit yang kedua. Selama dua menit
tersebut jarak yang ditempuh adalah 600 m.
Total kerja yang dilakukan adalah 16800 Joule. Jarak yang sama
sebenarnya dapat pula ditempuh oleh perahu yang sama tanpa perubahan kecepatan selama dua menit tersebut (misalnya kecepatan konstan
pada 5 m/s selama dua menit). Kerja yang harus dilakukan pada sistem yang
bergerak dengan kecepatan konstan ini adalah 15000 Joule. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa penggunaan kecepatan yang
konstan sepanjang lintasan merupakan teknik yang lebih efektif karena
membutuhkan kerja (dan daya) yang lebih sedikit untuk menempuh jarak
yang sama. Pertambahan kecepatan di saat-saat
akhir wha menjelang finish hanya menghasilkan kelelahan yang lebih bagi
para pedayung karena kerja yang harus dilakukan lebih besar.
Dari uraian di atas, penulis ingin memaparkan bahwa ada
teknik-teknik yang dapat dilakukan, tentunya dengan bantuan konsep fisika
sehingga tim pendayung dapat memenangkan perlombaan atau bahkan memecahkan
rekor kecepatan mendayung yang telah ada.
D.
Tenis
Pada olahraga tenis, Serena Williams adalah salah satu atlet
yang diperhitungkan. Tentu saja, karena Serena adalah juara Grand Slam untuk keempat kalinya berturut-turut. Untuk
mendapatkan Grand Slam Serena harus menjuarai Australia Terbuka (lapangan
komposit/semen), Amerika Serikat
Terbuka (lapangan komposit), Perancis Terbuka (lapangan tanah liat), dan
Wimbledon (lapangan rumput). Apa memang semudah itu menaklukkan lawan-lawan
tangguhnya, di berbagai negara yang memiliki kondisi lapangan tenis yang
berbeda-beda? Tentu saja ada rahasianya yang berhubungan dengan prinsip-prinsip
fisika :
a. Sweet spots
Raket pada zaman dahulu (sekitar tahun
1935-an) sangat berbeda dengan raket yang ada sekarang. Raket sekarang kepalanya sangat besar
dibandingkan dengan raket kuno dan berbentuk lebih lonjong (Gambar 1). Mengapa
raket sekarang kepalanya lebih besar?
Jawabannya bukan sekedar agar bola lebih mudah dipukul, tetapi ada
alasan fisikanya, yaitu sweet spots.
Sweet spots merupakan
daerah-daerah di kepala raket yang enak untuk dipukul dan
memberikan keuntungan-keuntungan tertentu bagi para pemain. Pada raket kuno sweet spots terletak
agak ke bawah dekat leher raket, sedangkan pada raket kepala besar, sweet
spots terletak agak ke tengah. Ada 3 jenis sweet spots: node, center of percussion (COP) dan maximum coeficient of restitution
(COR). Untuk menyelidiki ketiga titik ini dapat dilakukan beberapa
percobaan berikut. Timpuk bola ke kepala raket dengan keras, apa yang terjadi?
Raket akan bergetar bukan? Perhatikan bahwa
tidak semua titik pada raket ikut bergetar. Ada titik yang tidak ikut bergetar yang dinamakan node. Kalau bola
yang ditimpukkan tepat mengenai node, raket tidak akan bergetar
sehingga tangan si pemegang raket terasa lebih nyaman. Nah itu sebabnya node
digolongkan sebagai sweet spots.
Sekarang pegang raket pada posisi mendatar. Jatuhkan bola di
berbagai tempat pada kepala raket dan amati
tinggi pantulannya. Aneh, tinggi pantulan bola tidak sama untuk semua
titik. Ada titik dimana bola tidak dipantulkan sama sekali (bola langsung mati). Titik ini disebut dead
spots. Letaknya dekat dengan ujung raket
Tetapi ada pula titik yang memantulkan bola sangat keras. Menurut fisika titik ini mempunyai koefisien pantul (coeficient
of restitution/COR) yang sangat besar. Titik ini sering disebut titik COR.
Para pemain kaliber dunia seperti Hingis dan Venus Williams berlatih
keras supaya pukulannya selalu mengenai titik COR agar bola pantulnya bergerak dengan kecepatan tinggi.
Keuntungan-keuntungan pantulan inilah
yang menyebabkan titik ini digolongkan sebagai sweet spots. Letak titik COR dipengaruhi oleh luasnya kepala
raket dan kelenturan batang raket.
Masih pada posisi raket mendatar, sekarang hantamkan bola
dari atas dengan
kecepatan tinggi pada berbagai daerah di kepala raket. Apa yang terjadi? Raket terasa terdorong keras ke bawah
(bertranslasi) dan terputar (berotasi). Namun ini tidak terjadi pada semua titik. Ada titik dimana jika titik
ini dihantam bola, raket hanya
berotasi murni (terputar saja). Oleh orang fisika titik ini dinamakan center
of percussion (COP). Jadi jika bola mengenai titik COP, tangan kita tidak perlu menahan dorongan
translasi. Tangan terasa lebih nyaman, itu
sebabnya titik COP juga digolongkan sebagai sweet spots.
b. Serve
Permainan tenis selalu dimulai dengan serve. Tapi
sayangnya para pemain amatir biasanya justru
tidak terlalu mempedulikannya. Lain halnya dengan pemain profesional tingkat dunia. Mereka justru
mengasah kemampuan mereka untuk melakukan serve sesempurna mungkin
karena justru pada saat serve ini mereka punya kesempatan untuk
mencuri angka dan mengendalikan permainan.
Nama-nama seperti Pete Sampras, Boris Becker, dan Goran
Ivanicevic dikenal jagoan dalam melakukan serve karena bisa mencapai
kecepatan 190-215 km/jam. Greg Rusedski memegang rekor serve dengan 239,8
km/jam sedangkan untuk pemain wanita, Venus Williams yang memegang rekor dengan
205 km/jam. Kecepatan sebesar itu semuanya dihasilkan dari ayunan raketnya! Secepat apa tangannya mengayunkan raket? Di
sinilah ilmu fisika berlaku.
Untuk menghasilkan serve yang
hebat, Venus Williams harus melakukan ayunan menembus udara dengan
memperhitungkan faktor posisi raket, proyeksi dan kecepatan
tumbukan, serta mengkoordinasikan semuanya dengan pergerakan tubuhnya. Agar bola bergerak dengan
kecepatan tinggi, serve dikondisikan
supaya raket menumbuk bola tepat di daerah dead spot. Letak dead spot jauh dari tangan. Menurut
fisika titik yang terjauh dari tangan (pusat putaran) mempunyai
kecepatan yang tertinggi. Bukan itu saja, ketika bola mengenai daerah dead spot, hampir seluruh momentum raket
dipindahkan ke bola. Selain itu,
keuntungan serve ini adalah bola mengenai titik yang paling jauh
atau paling tinggi dari raket, sehingga peluang masuknya (melewati net) lebih
besar.
Serve yang dahsyat dapat membuat orang jadi juara Wimbledon. Bob Falkenbur, pernah jadi juara
Wimbledon hanya dengan modal serve
dan volley yang dahsyat saja tanpa pakai teknik-teknik lain. Pemain lain yang serve-nya ditakuti orang adalah Arthur
Ashe, John Doeg dan tentu saja Pete
Sampras si pemain yang dijuluki mempunyai serve yang terbaik dan konsisten.
c. Topspin
Bola yang ber-spin (berputar terhadap
sumbunya) seringkali membuat lawan kalang kabut. Spin bisa merubah arah bola
ketika sedang bergerak di udara atau merubah
pantulan bola ketika dipantulkan tanah (ground). Dalam tenis dikenal
3 jenis spin dasar: topspin, backspin (underspin) dan sidespin.
Pada topspin bola berotasi
searah dengan arah gerak majunya, sedangkan backspin berlawanan
dengan arah gerak majunya, dan sidespin tegak lurus arah gerak majunya Topspin memberikan
banyak keuntungan bagi atlet. Bola dengan topspin
akan melengkung lebih tajam,
mengurangi kemungkinan out dan membuat bola memantul lebih
tinggi. Menurut perhitungan Howard Brody (fisikawan yang juga pemain tenis),
bola yang dipukul dengan topspin 32 putaran per detik akan memantul 24 % lebih tinggi dibandingkan dengan bola yang dipukul
dengan backspin.
Ketika bola bergerak dengan topspin, udara
dibagian bawah
bola akan bergerak lebih cepat dibandingkan dengan udara di bagian atas bola.
Menurut fisika, udara yang bergerak lebih cepat akan berkurang tekanannya.
Perbedaan tekanan antara daerah bawah bola dan daerah atas bola ini menyebabkan
bola terdorong ke bawah. Dorongan ke bawah
inilah yang membuat bola melengkung tajam kebawah.
Pada
bola dengan backspin, bola akan bergerak lebih melebar sehingga
kemungkinan bola keluar lapangannya (out) lebih besar. Menurut
perhitungan Brody, bola lob dengan
kecepatan 125 km/jam (dengan backspin) akan jatuh diluar lapangan, bandingkan dengan bola topspin
yang walaupun dipukul dengan kecepatan 160 km/jam tetap masih jatuh di
lapangan. Perhitungan inilah yang menyebabkan si pemukul keras Pete
Sampras dan Andre Agassi bola lob-nya berputar dengan topspin.
d. Struktur
Tanah
Wimbledon dikenal sebagai lapangan
cepat (lapangan rumput) sedangkan lapangan tanah liat di Perancis Terbuka
merupakan lapangan lambat. Lapangan di Amerika Serikat dan Australia
Terbuka merupakan komposit sehingga karakteristiknya berada di antara lapangan
cepat dan lapangan lambat. Serena Williams,
Steffi Graf, Martina Navratilova dan petenis dunia lain yang sudah berhasil
mendapatkan Grand Slam berhasil menaklukkan semua lapangan yang
berbeda-beda ini. Ada berbagai trik bermain di lapangan-lapangan yang berbeda
ini tentunya dengan prinsip-prinsip fisika.
Pada lapangan rumput gesekan dengan bola sangat kecil
sehingga energi bola yang hilang akibat gesekan sangat kecil. Akibatnya bola
tetap memiliki kecepatan yang tinggi setelah memantul dari permukaan rumput.
Itulah sebabnya lapangan rumput Wimbledon ini sering disebut lapangan cepat.
Dalam lapangan cepat ini trik yang harus digunakan adalah melakukan serve yang
cepat dan dahsyat. Serve cepat ini
akan sulit dijangkau lawan sehingga cepat mendapatkan angka.
Di lapangan tanah liat triknya berbeda lagi. Di sini gesekan
lebih besar sehingga bola pantul akan bergerak lebih lambat (kecepatannya bisa
berkurang lebih dari 40%). Di samping itu menempelnya butiran-butiran tanah
liat pada bola akan membuat bola lebih berat dan bergerak lebih lambat lagi.
Karena lambatnya bola bergerak, lapangan di Perancis terbuka ini sering disebut
lapangan lambat. Disini serve yang terlalu kuat menjadi tidak efektif.
Pemain harus banyak memanfaatkan spin. Gesekan
yang besar dapat membuat bola topspin dipantulkan dengan sudut pantul lebih besar dari perkiraan dan bola
bergerak lebih cepat. Sedangkan bola backspin akan dipantulkan
dengan sudut yang lebih kecil dari perkiraan dan bergerak lebih lambat.
BAB II
PENUTUP
Penulis telah memaparkan bagaimana para atlet memanfaatkan
newton untuk memecahkan rekor. Pemanfaatan newton pada berbagai jenis olahraga
tidak berhenti sampai di sini. Saat ini para
pelatih dari tiap atlet meminta para peneliti untuk meneliti lebih banyak hal
lagi untuk memperoleh teknik menjalankan olahraga tertentu agar lebih baik dan
efisien. Hal itu dimaksudkan agar muncul rekor-rekor baru pada setiap jenis
olahraga. Kedepannya kita akan semakin sering
menyaksikan bagaimana fisika memperbaiki rekor-rekor olahraga yang ada.
Ada begitu banyak yang bisa diutak-atik
oleh pare peneliti dalam perlombaan memecahkan rekor dunia ini.
Di masa datang, diharapkan prinsip-prinsip newton dapat
digunakan lebih luas dalam mengembangkan teknik berbagai olahraga menjadi lebih
baik, agar para atlet dapat lebih mudah menjalankan olahraganya sehingga dapat
memecahkan rekor dunia.
Penerapan
hukum newton
- Hukum newton ( Hukum
Kelembaman)
Aplikasi dalam
sepak bola,Bola tidak akan pernah bergerak tanpa adanya tendangan dari pemain
lainnya.
- Hukum Newton II (Hukum
percepatan)
Aplikasi
- Melakukan start pada lari
- Pada Bela diri Dalam olah raga
bela diri tentunya terdapat dua atlet yang berusaha untuk menjadi
pemenang. Jika atlet I menyerang atlet II, maka atlet II dapat juga
mnyerang kembali atlet I dengan tempat yang berlawanan. Misalnya saja
atlet I menyerang pundak pemain dua maka atlet dua dapat melawan dengan
menyerang kembali bagian dada atau bahkan menjatuhkannya. Pemain II
menyerang kembali karena berusaha mempertahankan dirinya agar tidak
terjatuh.
- Hukum Newton III (Hukum reaksi)
Aplikasi
- Seorang penolak peluru akan
berusaha agar kakinya tetap pada lantai dalam lingkaran pada waktu melontar,supaya
memperoleh gaya yang dimaksud
- Melempar bola ke tembok.
Tugas 8
1.Pemain A
menabrakpemain B pada sudut 70° dengan arah gerakannya adalah menggunakan gaya
sebesar 80 kg.Sedangkan B pada waktu bertubrukan menggunakan gaya sebesar 120
kg. Berapa jauh A dapat menggeser B? Ap-abila A menubruk B pada sudut 40°
dengan arah gerakannya .Berapa jauh A dapat menggeser B
Dik
: A = 80 kg
B = 120kg
α
= 40°
Dit
: R ?
Jawab :
a)
R² = A² + B²
= 80² +
120²
= 6400 +
14400
= 20800
R
=√20800
= 144 kg
Cos β =
B/R =120/144 = 0.83
β = 34°
(tabel)
b)
R² = A² + B² -2AB Cos α
= 6400 +
14400-19200 x 0.76
= 6208
R
=√ 6208
= 78.8 kg
Tugas 9
SISTEM PENGUNGKIT
- A.
Olahraga yang Menggunakan Sistem Pengungkit I
Sistem
Pengungkit dapat diaplikasikan ke dalam olahraga yang sering kita lakukan.
Sistem Pengungkit I digunakan dalam olahraga basket. Ketika menggunakan
teknik-teknik dalam olahraga basket, terutama pada saat kita melakukan
shooting, maka kita menggunakan jenis pengungkit I yakni sumbu putaran terletak
antara beban dan gaya. Sendi siku (ekstensi sendi siku/articulatio cubiti) yang
menggerakkan incertio tricep brachii dan lengan bawah dan tangan. Sendi siku
menggerakkan lengan bawah dan tangan yang terdapat berat, sehingga incertio
tricep brachii akan tergerak dan memberikan gaya. Dengan adanya pergerakan
sistem sendi yang merupakan jenis pengungkit I, maka sendi siku incertio tricep
brachii memberikan gaya pada berat yang ada pada tangan sehingga bola dapat
masuk dengan tepat ke dalam ring.
- B.
Olahraga yang Menggunakan Sistem Pengungkit III
Di dalam
olahraga voli dapat diaplikasikan juga jenis pengungkit III, terutama ketika
kita melakukan phusing. Jenis pengungkit III yakni gaya terletak antara beban
dan sumbu putaran. Sendi yang menggerakkan adalah sendi siku dan menggerakkan
incertio bicep brachii dan lengan bawah dan tangan. Namun berbeda dengan jenis
pengungkit I, disini gaya yakni incertio bicep brachii berda di antara sumbu
putaran yakni sendi siku dan beban yakni lenganbawah tangan. Dengan adanya
gerakan dari sendi siku yang menghasilkan sebuah gaya, akan mendorong beban
yang tidak lain adalah bola voli itu sendiri sehingga kita dapat memukul bola
voli ke atas yang disebut teknik phusing.
Tugas 10
MOMENT GAYA
Soal :
Pelempar tolak
peluru mengakhiri putarannya siap untuk melepaskan peluru dengan kecepatan
rata-rata 28,17 radial/detik. Besarnya jarak antara pusat peluru sampai dengan
pusat putaran (columna vertebralis) adalah 70 centimeter (radius). Berapakah
kecepatan linier peluru?
Jawaban :
Diket :
= 100 kg
Perpanjangan
= 70 cm = 0,7 m
Ditanya :
Jawab :
Jika
radius di perpanjang 0,7cm, maka :
=
28,17 x 0,7 = 19,72 m/dt
Tugas 11
Seorang Kiper Futsal melepaskan lemparan bola dengan kecepatan rata-rata
29,kemudian 25,23 radial /detik.Besarnya jarak antara Pusat bola sampai dengan
pusat putaran adalah 50 cm.berapa kecepatan Linier bola?
V = 25,23 x 50 = 12,61
m/dt
Jika radius di perpanjang menjadi 60 cm maka
V =25,23 x 60 =15,13 m/dt
Tugas 12
Gaya sentrifugal yang terkait dengan cabang olahraga adalah olahraga
Pacuan Kuda,pada saat di tikungan kuda pasti akan sedikit mencondongkan
badannya,begitu juga dengan jokinya.
Untuk Contoh adalah
Seorang pambalap kuda berlari dengan kudanya, jari-jarinya adalah 30m,dengan
kecepatan 30m/dt,berat badan pelari dengan kudanya total 170 kg.Berapa gaya
yang menarik keluar lintasan di tikungan?
Jawab
G = 120 x
30² = 40 kg
30 x 30
Jika jari-jari tikungan 15 m ,maka
G = 120 x
30² = 80 kg
30 x 15
Tugas 12
Besarnya Gaya Geser
Penerapan pada olahraga adalah,Olahraga Futsal di lapangan Kayu, pada
keadaan ini pemain futsal selalu melakukan gerakan-gerakan cepat dan biasanya
akan tergelincir apabila tidak melakukan penerapan gaya geser. Dengan demikian maka
sepatu futsal akan menggunakan soul karet yang berbatik,dengan itu akan
memperbesar gaya geser,maka pemain futsal tidak akan tergelincir di lapangan
kayu.
Tugas 13
Tumbukan
Gaya ini terjadi ketika pemain Bola menendang bola, di sini yang terjadi
adalah kaki pemain sepak bola berbenturan dengan bola,maka akan menghasilkan
tendangan yang keras. Jenis-jenis putaran bola juga tergantung dari perkenaan
dari kaki,jadi tergantung dari koordinir dari kaki ke bola,sehingga jenis
tendangan akan tercipta.
Tugas 14
Elastisitas
A. Rumus Elastisitas untuk Dua Buah Benda yang Sama-sama Bergerak
Soal :
Dua buah
bola digelindingkan saling berhadapan sehingga keduanya saling bertumbukan.
Kecepatan bola pertama sebelum tumbukan adalah 40 m/dt, sedekan setelah
tumbukan berubah menjadi 20 m/dt. sedangkan bola kedua memiliki kecepatan awal
sebelum tumbukan yakni 30 m/dt, sedangkan setelah tumbukan berubah
menjadi 25 m/dt. bearapakan elasitasnya?
Jawaban :
Diket :
= 20 m/dt
= 40
m/dt
= 25
m/dt
= 30
m/dt
Ditanya
: elastisitas = e
Jawab :
e
=
=
= 0,5
B. Rumus Elastisitas untuk Dua Buah Benda yang Salah Satunya Tidak
Bergerak
Soal :
Sebuah
bola basket yang berdiameter 20 cm, dijatuhkan dari ketinggian 140 cm.
Berapakah koefisien elastisitasnya?
Jawaban :
Diket : diameter
= 20 cm
tinggi
= 140 cm
Ditanya
: koefisien elastisitas = e
Jawab :
Kecepatan bola setelah tumbukan :
St = 140 –
20 = 120 cm = 1,2 m
= 2
.g. St
= 2.
10. 1,2
= 24
=
4,9 m/dt
Kecepatan bola sebelum tumbukan :
St = 140 +
20 = 160 cm = 1,6 m
= 2
.g. St
= 2.
10. 1,6
= 32
=
5,6 m/dt
Elastisitas bola basket tersebut adalah :
e
=
=
= 0,875
C. Kecepatan Bola Setelah Terkena Pukulan
Soal :
Sebuah
bola dilempar dengan kecepatan 50 m/dt, kecepatam pemukul 25 m/dt. berat
pemukul adalah 2,7 kg, sedangkan berat bola adalah 0,7 kg, koefisien
elastisitas bola adalah 0,14. berpakah kecepatan bole setalah kena pukul?
Jawaban :
Diket :
= 50 m/dt
=
25 m/dt
=
2,7 kg = 0,27
=
0,7 kg = 0,07
e
= 0,7
Ditanya
: kecepatan bola setelah kena pukul =
Jawab :
=
41,25 m/dt
Bola
futsal di ditendang dengan kecepatan 35m/dt (Ù1),kecepatan tendangan
adalah 12m/dt(Ù2).berat pemukul 3,2 kg,berat bola 0,5 kg.koefisien elastisitas
bola 0,5,berapa kecepatan bola setelah kena pukulan?
V1
= (0,32- 0,5.0.05)35 + (1+ 0,5) 0,05 x12
0,32 +
0,05
= 15,81
m/dt
\Jika Bola
dilempar dengan kecepatan 32 dtik
V1
= (0,32- 0,5.0.05)32 + (1+ 0,5) 0,05 x12
0,32 +
0,05
=
16.54m/dt
CasinoSecret - Games from CasinoFib
BalasHapusCasinoSecret Games · How CasinoSecret works · The amount of bets you make will depend on the number betway login of games you make · カジノ シークレット The number of points you get · The maximum planet win 365
What are the best bonuses in casinos with slots? - Lo-Go
BalasHapusFind out which online how to order air jordan 18 retro casino has the best slots to play and how to 슬롯 머신 claim the best welcome bonuses! Learn where can i buy air jordan 18 retro men how to claim where to buy air jordan 18 retro racer blue the casino air jordan 18 retro men red from my site welcome bonus in